Literasi Digital Sebagai Penangkal Hoax

Kepala Diskominfo SP Kentis Ratnawati, S.H., M.M., mewakili Walikota Surakarta memberikan sambutan dan paparan dalam Workshop Kemampuan Pengembangan Jurnalistik Pemerintah Dalam Menghadapi Era Post Truth, Rabu (23/6/2021) di Hotel Alila Surakarta.

Workshop ini diselenggarakan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemendagri yang bekerjasama dengan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) Jerman Perwakilan Indonesia dan Timor Leste.

Dalam paparannya Ibu Kadis menyampaikan bahwa dunia sedang menghadapi post truth, yaitu situasi ketika publik dikaburkan dari fakta-fakta obyektif.

Kondisi ini mendorong munculnya hoax, informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi sebenarnya. Alhasil, hoax menyebar hingga ke seluruh dunia dan publik pun dibuat kebingungan olehnya.

Hoax kemudian dipandang sebagai sebuah komoditas industri. Sekelompok orang (produsen hoax) menciptakan suatu “kebenaran” sesuai dengan keinginannya.

Kemudian, mereka bekerjasama dengan kelompok lain yang bertugas membuat akun palsu, akun buzzer, dan tanda pagar (tagar) yang bersifat provokatif.

Sasarannya adalah publik mempunyai kepentingan atas hoax yang disebarluaskan. Publik inilah yang nantinya menjadi pengikut (followers) yang secara sukarela menyebarluaskan hoax tersebut melalui media digital.

Untuk mengantisipasi hal ini, publik harus dibekali dengan literasi digital. Literasi digital adalah kemampuan individu untuk mengakses, memahami, membuat, mengomunikasikan, dan mengevaluasi informasi melalui teknologi digital.

Tingkat kepahaman publik atas literasi digital diharapkan akan mampu menangkal hoax dan dapat mendorong publik untuk memanfaatkan media digital secara bijak.

Kepala Diskominfo SP Kentis Ratnawati, S.H., M.M., makili Walikota Surakarta maringi sambutan lan paparan wonten ing Workshop Kemampuan Pengembangan Jurnalistik Pemerintah Dalam Menghadapi Era Post Truth, dinten Rebo (23/6/2021) mapan ing Hotel Alila Surakarta.

Workshop meniko kawontenaken dening Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemendagri kaliyan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) Jerman Perwakilan Indonesia lan Timor Leste.

Wonten ing paparanipun Ibu Kadis ngendiko bilih donya nembe ngajengi post truth, inggih meniko kawontenan naliko publik dipuntebihaken saking fakta-fakta obyektif.

Kawontenan meniko ngedalaken hoax, informasi ingkang dipunrekayasa kangge nutupi informasi ingkang sakleresipun. Asilipun, hoax nyebar dhateng sadayaning donya lan publik dipundamel kebingungan.

Hoax lajeng dipuntingali dados satunggaling komoditas industri. Sekelompok tiyang (produsen hoax) ndamel satunggaling “keleresan” cocog kaliyan kekajenganipun.

Saklajengipun, piyambakipun sadoyo nindakaken kerja sami kaliyan kelompok lain ingkang nggadahi tugas ndamel akun palsu, akun buzzer, lan tanda pagar (tagar) ingkang sipatipun provokatif.

Sasaranipun inggih meniko publik ingkang nggadahi kepentingan tumrap hoax ingkang dipun dipunsebarluasaken. Publik meniko ingkang mangke dados pengikut (followers) ingkang kanthi lilo nyebarluasaken hoax meniko ngangge media digital.

Kangge ngantisipasi bab meniko, publik kedah dipunparingi pangertosan bab literasi digital. Literasi digital inggih meniko kemampuan individu kangge ngakses, mangertosi, ndamel, nindakaken komunikasi, lan evaluasi informasi ngangge teknologi digital.

Tingkat pangertosan publik tumrap literasi digital dipunajeng-ajeng saged nangkal hoax lan saged ndamel publik manfaataken media digital kanthi bijak.

The Head of Diskominfo SP Kentis Ratnawati, S.H., M.M., representing the Mayor of Surakarta gives a speech and presentation at the Workshop on Government Journalistic Development Capability in Facing the Post Truth Era, Wednesday (23/6/2021) at the Alila Hotel, Surakarta.

This workshop is organized by the Human Resources Development Agency (BPSDM) of the Ministry of Home Affairs in collaboration with the German Konrad Adenauer Stiftung (KAS) Representatives of Indonesia and Timor Leste.

In her presentation, Ibu Kadis says that the world is facing post truth, namely a situation when the public is obscured from objective facts.

This condition encourages the emergence of hoaxes, information that is engineered to cover up real information. As a result, hoaxes spread throughout the world and the public is confused with it.

Hoax is then seen as an industrial commodity. A group of people (hoax producers) create a “truth” according to their wishes.

Then, they collaborated with other groups in charge of creating fake accounts, buzzer accounts, and provocative hashtags.

The target is that the public has an interest in the disseminated hoax. This public will later become followers who voluntarily disseminate the hoax through digital media.

To anticipate this, the public must be equipped with digital literacy. Digital literacy is an individual’s ability to access, understand, create, communicate, and evaluate information through digital technology.

The public’s digital literacy understanding level is expected to be able to ward off hoaxes and can encourage them to use digital media wisely.

***