06-03-2026
WIB
Vinta
03-03-2026
11:15:20 WIB
Andini Wati mewakili Bidang Statistik menghadiri Rilis Berita Resmi Statistik yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) terkait perkembangan inflasi Februari 2026 dan kinerja pariwisata Januari 2026. Kegiatan tersebut menjadi forum strategis untuk memaparkan data terkini sekaligus memperkuat koordinasi lintas perangkat daerah dalam merespons dinamika ekonomi.
Dalam paparannya, BPS menyampaikan sejumlah komoditas yang menjadi penyumbang inflasi pada Februari 2026, lengkap dengan besaran persentase kenaikan masing-masing. Selain itu, dijelaskan pula angka inflasi secara year on year (y-on-y) maupun month to month (m-to-m), sebagai gambaran tren pergerakan harga baik dibandingkan bulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.
Beberapa bahan pangan tercatat mengalami kenaikan harga dan memberikan andil terhadap inflasi. Misalnya, komoditas cabai yang mengalami lonjakan harga akibat faktor cuaca dan distribusi. Kenaikan ini turut memengaruhi kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau.
Forum rilis tidak hanya memaparkan data, tetapi juga diikuti dengan diskusi bersama perangkat daerah. Dinas Perdagangan (Disdag) dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispangtan) turut memberikan insight tambahan terkait faktor penyebab kenaikan harga di lapangan. Dalam kasus cabai, misalnya, disampaikan bahwa curah hujan tinggi berdampak pada penurunan produksi di tingkat petani, sementara permintaan pasar tetap tinggi.
Sebagai langkah antisipasi, perangkat daerah memaparkan sejumlah upaya pengendalian, antara lain melalui pemantauan harga harian, penguatan distribusi antarwilayah, fasilitasi operasi pasar, hingga koordinasi dengan daerah pemasok. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan dan menekan gejolak harga di pasar.
Selain inflasi, BPS juga memaparkan perkembangan sektor pariwisata Januari 2026, termasuk data kunjungan wisatawan dan tingkat hunian kamar. Data ini menjadi indikator penting dalam membaca pemulihan dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Melalui kehadiran dalam forum ini, Bidang Statistik berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi data dan kebijakan. Kolaborasi antara BPS dan perangkat daerah diharapkan mampu menghasilkan langkah yang lebih tepat sasaran dalam menjaga stabilitas ekonomi serta mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.
****
Andini Wati, representing the Statistics Division, attended the Official Statistics News Release held by Badan Pusat Statistik (BPS), which presented the February 2026 inflation data and January 2026 tourism performance. The event served as a strategic forum to deliver the latest statistical updates while strengthening coordination among regional government agencies in responding to economic dynamics.
In its presentation, BPS outlined several commodities contributing to inflation in February 2026, including the percentage increase of each item. The report also highlighted inflation rates on a year-on-year (y-o-y) and month-to-month (m-o-m) basis, providing a comprehensive overview of price movements compared to both the previous month and the same period last year.
Several food commodities were identified as major contributors to inflation. For instance, chili prices increased significantly due to weather factors and distribution constraints. This rise affected the food, beverage, and tobacco expenditure group.
The session was followed by discussions with regional agencies to provide additional insights. The Trade Office and the Agriculture and Food Security Office shared field observations regarding the causes of price increases. In the case of chili, high rainfall had reduced production at the farmer level, while market demand remained strong.
To address these challenges, regional agencies outlined several control measures, including daily price monitoring, strengthening interregional distribution, facilitating market operations, and coordinating with supplier regions. These efforts aim to maintain supply stability and mitigate price volatility.
In addition to inflation, BPS also presented tourism data for January 2026, including visitor arrivals and hotel occupancy rates, which serve as key indicators of regional economic recovery and growth.
Through participation in this forum, the Statistics Division reaffirmed its commitment to strengthening data-driven policy coordination. Collaboration between BPS and regional agencies is expected to support more targeted measures in maintaining economic stability and sustainable growth.
****
Andini Wati minangka wakil saking Bidang Statistik rawuh ing Rilis Berita Resmi Statistik ingkang dipunadani dening Badan Pusat Statistik (BPS), ngenani data inflasi wulan Februari 2026 lan kinerja pariwisata wulan Januari 2026. Kagiyatan punika dados forum strategis kangge nyampaikaken data paling anyar saha ngiyataken koordinasi kaliyan piranti daerah anggenipun nanggapi dinamika ekonomi.
Ing paparanipun, BPS nyariosaken pinten-pinten komoditas ingkang dados panyumbang inflasi Februari 2026, kalebet persentase kenaikanipun. Ugi dipunandharaken angka inflasi kanthi cara year-on-year (yoy) lan month-to-month (mom), minangka gambaran owah-owahan rega menawi dipunbandingaken kaliyan wulan kapengker saha periode ingkang sami taun kepengker.
Sawetawis bahan pangan kacathet ngalami kenaikan rega lan maringi andil dhateng inflasi. Tuladhanipun, rega cabe mundhak awit faktor cuaca lan kendala distribusi. Kahanan punika mengaruhi golongan pengeluaran pangan, omben-omben, lan rokok.
Sasampunipun paparan, kalampahan ugi diskusi kaliyan piranti daerah kangge maringi wawasan tambahan. Dinas Perdagangan lan Dinas Pertanian lan Ketahanan Pangan nyariosaken sebab-sebab kenaikan rega wonten ing lapangan. Kangge komoditas cabe, curah udan ingkang inggil nyebabaken produksi petani mudhun, dene panyuwunan pasar tetep inggil.
Minangka upaya pengendalian, piranti daerah nyariosaken langkah-langkah kados pemantauan rega saben dinten, penguatan distribusi antarwilayah, fasilitasi operasi pasar, saha koordinasi kaliyan daerah pemasok. Upaya punika dipunajeng-ajeng saged njagi kestabilan pasokan lan nyuda gejolak rega.
Kajawi inflasi, BPS ugi nyampaikaken data pariwisata Januari 2026, kalebet cacah wisatawan lan tingkat hunian hotel, ingkang dados indikator wigati tumrap pamulihan lan tuwuhing ekonomi daerah.
Lumantar partisipasi wonten forum punika, Bidang Statistik negesaken komitmenipun kangge ngiyataken kebijakan adhedhasar data saha sinergi antarinstansi, supados stabilitas ekonomi saged kajagi lan pertumbuhan lestari saged kasembadan.