(0271) 2931667
diskominfosp@surakarta.go.id

11-03-2026

WIB

Vinta

07-10-2025

 16:10:52 WIB
Rapat Koordinasi PPID Surakarta: Dokumen Ijazah Termasuk Informasi yang Dikecualikan
Icon

Diskominfo SP Kota Surakarta bersama Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Kota Surakarta menggelar rapat koordinasi terkait permohonan informasi publik pada Selasa (7/10/2025).

Rapat dipimpin oleh Sekretaris PPID Surakarta, Risang Cantika Budi, dan dihadiri oleh perwakilan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Surakarta serta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispersip) Kota Surakarta.

Dalam rapat tersebut dibahas surat permohonan informasi publik yang diajukan oleh Dr. Bonatua Silalahi, seorang akademisi dan doktor kebijakan publik. Melalui surat tersebut, ia meminta salinan seluruh ijazah atas nama Joko Widodo mulai dari jenjang SD, SMP, SMA, hingga S1 yang telah dilegalisir dan digunakan sebagai syarat administrasi pendaftaran dalam Pilkada Kota Surakarta tahun 2005 dan 2010. Selain itu, ia juga meminta dokumen serupa atas nama Gibran Rakabuming Raka, dengan alasan keterbukaan informasi publik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP).

Menanggapi permohonan tersebut, Sekretaris PPID Kota Surakarta menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Surakarta tidak memiliki kewenangan maupun penguasaan atas dokumen yang diminta. Dokumen ijazah tersebut merupakan arsip pencalonan yang diserahkan langsung kepada KPU pada saat proses pemilihan, sehingga bukan bagian dari arsip yang dikelola oleh Pemerintah Kota. Dengan demikian, permohonan tersebut dinyatakan tidak dapat dipenuhi.

Dalam keberatan yang diajukan, pemohon berpendapat bahwa Dinas Kearsipan sebagai lembaga kearsipan daerah seharusnya memiliki kewajiban untuk menyimpan arsip statis, termasuk dokumen pencalonan kepala daerah. Namun hasil rapat koordinasi antara Dispersip dan KPU Kota Surakarta menunjukkan bahwa akses terhadap dokumen tersebut hanya dapat diberikan apabila terdapat persetujuan tertulis dari pemilik ijazah. Ketentuan ini sejalan dengan Pasal 17 UU No. 14 Tahun 2008, yang menyebutkan bahwa informasi yang mengandung data pribadi termasuk kategori informasi yang dikecualikan dari keterbukaan publik.

Dari sisi hukum, Risang menegaskan bahwa jawaban PPID sudah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan kondisi faktual di lapangan. PPID tidak memiliki dasar untuk menekan instansi lain agar menyerahkan dokumen yang bukan menjadi kewenangannya. Ia juga menekankan bahwa KPU, Dispersip, dan PPID merupakan lembaga dengan domain kewenangan yang berbeda.

KPU Kota Surakarta sendiri menyatakan tidak memiliki kewenangan untuk memberikan salinan dokumen ijazah yang diminta, dengan alasan yang sama. Adapun terkait permohonan dokumen atas nama Gibran Rakabuming Raka, Pemerintah Kota Surakarta juga menyampaikan bahwa permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena termasuk data pribadi yang dilindungi undang-undang. Dokumen hanya dapat diberikan apabila ada persetujuan tertulis dari yang bersangkutan, meskipun yang bersangkutan merupakan pejabat publik.

Dengan demikian, jawaban yang diberikan oleh PPID dan KPU Kota Surakarta dinilai telah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Permintaan salinan ijazah termasuk dalam kategori informasi yang dikecualikan, karena mengandung data pribadi yang dilindungi oleh peraturan perundang-undangan tentang keterbukaan informasi publik dan perlindungan data pribadi.

Diskominfo SP Surakarta, together with the Information and Documentation Management Officer (PPID) of Surakarta City, held a coordination meeting regarding a public information request on Tuesday (October 7, 2025).

The meeting, led by PPID Secretary Risang Cantika Budi, was attended by representatives from the Surakarta General Election Commission (KPU) and the Regional Library and Archives Office (Dispersip).

During the meeting, the participants discussed a public information request submitted by Dr. Bonatua Silalahi, an academic and public policy expert. In his request, he asked for copies of all legalized diplomas belonging to Joko Widodo, ranging from elementary to university levels, which were used as administrative requirements during the 2005 and 2010 Surakarta mayoral elections. He also requested similar documents belonging to Gibran Rakabuming Raka, citing the right to information transparency as guaranteed by Law Number 14 of 2008 concerning Public Information Disclosure (KIP Law).

Responding to the request, the PPID Secretary explained that the Surakarta City Government neither holds authority over nor possesses the requested documents. The diplomas are part of the election archives submitted directly to the KPU, not archives managed by the city government. Therefore, the request cannot be fulfilled.

In his objection, the requester argued that the Regional Archives Office should be legally obliged to store static archives, including documents related to regional head nominations. However, based on the coordination between Dispersip and KPU Surakarta, access to such documents can only be granted with the written consent of the document owner. This is in accordance with Article 17 of Law No. 14 of 2008, which classifies personal data as information excluded from public disclosure.

From a legal standpoint, Risang emphasized that PPID’s response complies with applicable laws and factual conditions. The PPID has no authority to compel other institutions to release documents outside its jurisdiction. It was also clarified that KPU, Dispersip, and PPID each operate within distinct domains.

The KPU Surakarta likewise stated that it has no authority to release the requested diploma copies for the same reason. Regarding the request for Gibran Rakabuming Raka’s documents, the Surakarta City Government reaffirmed that such data are personal and protected by law. The documents can only be shared with written consent from the individual concerned, even if they hold a public office.

Thus, the responses provided by PPID and KPU Surakarta are deemed consistent with the prevailing legal framework. The requested diplomas fall under the category of information exempted from disclosure as they contain personal data protected under public information and data protection laws.

Diskominfo SP Kutha Surakarta bareng karo Pejabat Pengelola Informasi lan Dokumentasi (PPID) ngadani rapat koordinasi gegayutan karo panjaluk informasi publik ing dina Selasa (7 Oktober 2025).

Rapat kasebut dipimpin dening Sekretaris PPID Surakarta, Risang Cantika Budi, lan diadiri dening wakil saka Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kutha Surakarta uga Dinas Perpustakaan lan Kearsipan Daerah (Dispersip) Kutha Surakarta.

Ing rapat kasebut dibahas surat panjaluk informasi publik saka Dr. Bonatua Silalahi, sawijining akademisi lan doktor kebijakan publik. Panjaluk kasebut njaluk salinan ijazah milik Joko Widodo wiwit saka SD, SMP, SMA nganti S1 sing wis dilegalisir lan digunakake minangka syarat administratif nalika Pilkada Kutha Surakarta taun 2005 lan 2010. Kajaba iku, dheweke uga njaluk dokumen padha milik Gibran Rakabuming Raka kanthi alesan keterbukaan informasi publik miturut Undhang-undhang Nomor 14 Taun 2008 bab Keterbukaan Informasi Publik.

Sekretaris PPID Surakarta nerangake manawa Pemerintah Kutha Surakarta ora nduweni wenang lan ora nguwasani dokumen sing dijaluk. Dokumen ijazah kasebut minangka arsip pencalonan sing langsung diserahake marang KPU nalika proses pemilihan, dudu arsip sing dikelola dening Pemerintah Kutha. Mula saka kuwi, panjaluk kasebut ora bisa dipenuhi.

Saka asil koordinasi antarane Dispersip lan KPU Kutha Surakarta, dipraktekake manawa akses marang dokumen kasebut mung bisa diwenehake yen ana idin tulisan saka sing nduweni ijazah. Iki selaras karo Pasal 17 Undhang-undhang Nomor 14 Taun 2008, sing nyebutake manawa informasi sing ngemot data pribadi kalebu informasi sing ora kena diungkap marang publik.

Saka segi hukum, Risang negesake manawa jawaban PPID wis selaras karo aturan lan kahanan ing lapangan. PPID ora nduweni dasar kanggo meksa lembaga liya supaya maringi dokumen sing dudu wewenange. KPU, Dispersip, lan PPID uga nduweni tugas lan domain sing beda-beda.

KPU Kutha Surakarta uga nyebutake yen ora nduweni wewenang kanggo maringi salinan ijazah sing dijaluk. Kanggo dokumen milik Gibran Rakabuming Raka, Pemerintah Kutha Surakarta uga nerangake manawa dokumen kasebut kalebu data pribadi sing dilindhungi dening undhang-undhang. Dokumen mung bisa diwenehake yen ana idin tulisan saka sing bersangkutan, sanajan sing bersangkutan iku pejabat publik.

Kanthi mangkono, jawaban saka PPID lan KPU Kutha Surakarta wis selaras karo aturan hukum sing lumaku. Panjaluk salinan ijazah kalebu kategori informasi sing ora kena diungkap amarga ngemot data pribadi sing dilindhungi undhang-undhang babagan keterbukaan informasi publik lan perlindungan data pribadi.