07-10-2026
WIB
Ardymulya Iswardani
28-09-2026
14:32:11 WIB
SURAKARTA — Pemerintah Kota Surakarta mendorong penguatan integrasi data, kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD), serta kebijakan berbasis data melalui Rapat Koordinasi Forum Dewan Smart City Kota Surakarta Tahun 2026, Senin (28/9/2026).
Forum Dewan Smart City Surakarta tersebut menjadi ruang untuk menyatukan gagasan pembangunan dalam enam dimensi Smart City Surakarta. Kegiatan berlangsung pukul 08.30–13.00 WIB dengan melibatkan unsur pemerintah daerah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, dan media.
Mengusung tema “Orkestrasi Sinergi Menuju Smart City”, forum diarahkan untuk memperkuat jejaring dan menyelaraskan berbagai inovasi perangkat daerah agar pembangunan Kota Surakarta berjalan lebih terintegrasi.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfo SP) Kota Surakarta, Lusia Sari Murniati, S.Kom., M.Eng., menyampaikan bahwa forum menjadi ruang untuk menggali gagasan baru sekaligus menyelaraskan program inovasi dari berbagai pemangku kepentingan.
“Melalui orkestrasi sinergi ini, gagasan dari berbagai stakeholder dan program inovasi perangkat daerah diharapkan dapat menjadi satu langkah bersama untuk mewujudkan Smart City Kota Surakarta,” demikian poin laporan pelaksanaan kegiatan.
Dalam arahan pembukaan, Wali Kota Surakarta menegaskan bahwa konsep smart city tidak semata-mata berkaitan dengan penggunaan teknologi. Smart City Surakarta diarahkan untuk meningkatkan kinerja pemerintahan dan memudahkan layanan publik agar berjalan lebih efektif dan efisien.
Pemerintah Kota Surakarta juga menempatkan data driven policy atau kebijakan berbasis data sebagai dasar dalam perumusan kebijakan. Pendekatan tersebut diharapkan menghasilkan kebijakan yang berdampak, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Sekretaris Daerah Kota Surakarta menambahkan bahwa kualitas data perlu terus diperbaiki agar sesuai dengan kondisi terbaru di lapangan. Penguatan data di tingkat kecamatan dan kelurahan dinilai penting karena wilayah tersebut memahami kondisi riil masyarakat secara langsung.
Tenaga Ahli Dewan Smart City dari Universitas Gadjah Mada, Eka Indarto, memaparkan arah strategis Smart City Surakarta yang mengacu pada visi RPJMD Kota Surakarta 2025–2029, yaitu “Surakarta Berbudaya, Maju, Sejahtera, dan Berkelanjutan.”
Dalam pemaparan tersebut, teknologi diposisikan sebagai instrumen untuk memperkuat keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis, bukan sekadar sarana otomasi birokrasi.
Sebanyak 178 inovasi daerah pada 2026 direncanakan untuk diselaraskan dengan enam dimensi smart city dan delapan program Asta Cita. Penyelarasan tersebut diarahkan agar penggunaan APBD semakin tepat sasaran.
Salah satu agenda yang dibahas adalah memasuki era zero silo, yaitu mengurangi sekat data dan aplikasi antar-OPD. Pemerintah Kota Surakarta mendorong interoperabilitas data melalui RESTful API Gateway, pengamanan Nomor Induk Kependudukan secara tersentralisasi sesuai standar Badan Siber dan Sandi Negara, serta pengembangan Solo Destination sebagai aplikasi penghubung berbagai layanan.
Dalam dimensi Smart Governance, forum menyoroti masih adanya aplikasi yang berjalan secara terpisah, tumpang tindih data antarlembaga, serta proses verifikasi data yang masih dilakukan secara manual.
Untuk menjawab persoalan tersebut, peserta mendorong pembangunan SoloData sebagai satu dashboard analisis yang menghubungkan tahapan perencanaan, pelaksanaan program, pemantauan, hingga evaluasi.
Dashboard SoloData dirancang untuk memadukan data statistik, geospasial, dan keuangan. Dalam jangka pendek, fokusnya adalah menyamakan data antar-OPD, melakukan verifikasi data manual, serta memastikan validitas informasi sebelum dimasukkan ke dalam sistem terintegrasi.
Forum Dewan Smart City Surakarta membahas enam dimensi pembangunan yang saling berkaitan, yaitu Smart Society, Smart Living, Smart Governance, Smart Environment, Smart Economy, dan Smart Branding.
Pada dimensi Smart Society, peserta mengusulkan optimalisasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), peluncuran layanan Lapor FKUB, pembentukan kelurahan sadar kerukunan, penguatan literasi digital melalui aplikasi iSolo, hingga pengembangan layanan kesehatan mental yang melibatkan komunitas penyintas dan akademisi.
Dimensi Smart Living menyoroti integrasi data kesehatan, termasuk data Posyandu dan Rekam Medis Elektronik. Peserta juga membahas penataan permukiman kumuh, persoalan drainase, akses layanan darurat, kebutuhan psikolog, serta peningkatan pemanfaatan transportasi umum.
Pada dimensi Smart Environment, forum mencatat terdapat sekitar 200 bank sampah yang beroperasi di Surakarta. Pengelolaannya masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain pendataan tonase, keterbatasan sarana pendukung, serta perbedaan kapasitas pengelolaan di setiap wilayah.
Peserta juga mengusulkan integrasi command center yang melibatkan Damkar, BPBD, Dinas Perhubungan, Kesbangpol, dan instansi terkait lainnya. Sistem tersebut diarahkan untuk mempercepat penugasan dan pengiriman bantuan saat keadaan darurat, termasuk melalui pemasangan sensor peringatan dini di hulu sungai.
Pada sektor Smart Economy, rapat membahas pengembangan Perlinsos Digital untuk mempermudah pengusulan bantuan sosial, program pelatihan kerja bagi pekerja serabutan, serta penyediaan bursa kerja informal.
Forum juga mengangkat gagasan pengelolaan makanan sisa dari rumah tangga dan restoran melalui sistem yang mempertemukan donatur dengan penerima manfaat.
Penguatan ekonomi daerah diarahkan melalui kajian digitalisasi IKM dan UMKM, penyusunan master plan investasi Kota Surakarta, pemetaan potensi Pendapatan Asli Daerah, serta pengembangan Solo Bisnis Dashboard.
Selain itu, One Stop Bisnis Group diusulkan sebagai layanan pendampingan bagi pelaku usaha setelah memperoleh izin usaha.
Sementara itu, dimensi Smart Branding menekankan perlunya target pariwisata yang jelas, pengembangan sport tourism, serta penyatuan informasi wisata dalam satu platform digital.
Strategi branding diarahkan melalui platform Solo Experience yang mengintegrasikan destinasi, agenda acara, kuliner, produk UMKM, transportasi, dan aktivitas budaya-kreatif.
Forum juga mendorong perluasan branding pasar tradisional, pengembangan titik kuliner hidden gem di berbagai pasar rakyat, serta penyediaan peta wisata UMKM untuk mengarahkan wisatawan ke sentra produk unggulan Kota Surakarta.
Dalam arah strategis yang dipaparkan, Pemerintah Kota Surakarta menargetkan sejumlah capaian pembangunan. Target tersebut antara lain menekan Indeks Kedalaman Kemiskinan pada kelompok desil 1–5 hingga di bawah 1,00, menurunkan tingkat pengangguran terbuka menjadi 3,43 persen pada 2027, serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah hingga Rp1,15 triliun pada 2030.
Sebagai tindak lanjut, seluruh gagasan dari enam dimensi Smart City Surakarta akan melalui tahap shortlisting berdasarkan skala prioritas.
Gagasan yang terpilih kemudian akan disinkronkan dengan organisasi perangkat daerah terkait dan diselaraskan dengan RPJMD Kota Surakarta.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Surakarta membangun ekosistem kota yang semakin terintegrasi, memanfaatkan data sebagai dasar kebijakan, serta memperkuat sinergi antar-OPD dan pemangku kepentingan.