18-03-2026
WIB
Vinta
16-03-2026
14:56:47 WIB
Isu perlindungan perempuan dan anak kembali menjadi sorotan dalam talkshow peringatan Hari Perempuan Internasional yang digelar di Balai Tawang Arum, Kompleks Balai Kota Surakarta. Kegiatan yang diinisiasi Yayasan Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK-HAM) bersama Yayasan IPAS Indonesia melalui Program Arunika itu mengangkat tema “Pemenuhan Hak-Hak Korban Kekerasan di Tengah Pusaran Efisiensi Anggaran”.
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bersama antara pemerintah, akademisi, lembaga layanan, media, dan masyarakat untuk memperkuat komitmen perlindungan serta pemenuhan hak korban kekerasan berbasis gender, khususnya perempuan dan anak.
Dalam kerangka acuan kegiatan disebutkan bahwa persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi tantangan serius. Secara nasional, Komnas Perempuan mencatat peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dari 401.876 kasus pada 2023 menjadi 445.502 kasus pada 2024. Di tingkat Jawa Tengah, kasus juga mengalami kenaikan dari 2.207 kasus pada 2022 menjadi 2.338 kasus pada 2023.
Sementara itu, di tingkat lokal, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Surakarta mencatat 173 laporan kasus kekerasan pada 2024, dengan rincian 72 kasus pada orang dewasa dan 101 kasus pada anak. Pada 2025, jumlah penanganan kasus melalui Unit Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak meningkat menjadi 190 kasus. Bentuk kekerasan yang paling banyak ditangani adalah kekerasan dalam rumah tangga sebanyak 73 kasus, disusul kekerasan seksual sebanyak 55 kasus.
Wakil Wali Kota Surakarta yang hadir sebagai keynote speaker menegaskan bahwa peningkatan kasus di Kota Surakarta harus menjadi perhatian bersama dan ditindaklanjuti secara serius.
“Kota Surakarta justru ada peningkatan kasus, kita perlu ingat payung hukum sudah ada jadi kita usut tuntas semua permasalahan menyangkut perempuan dan anak-anak. Permasalahan ini pun berkaitan dengan Asta Cita Pemkot Surakarta,” ujar Wakil Wali Kota Surakarta.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa upaya perlindungan perempuan dan anak tidak bisa dipandang sebagai isu sektoral semata, melainkan bagian dari agenda pembangunan daerah yang harus dijalankan secara konsisten. Keberadaan payung hukum dinilai harus diikuti dengan langkah nyata dalam penanganan kasus, pendampingan korban, serta penguatan sistem pencegahan di masyarakat.
Talkshow ini juga bertujuan memetakan kerentanan, persoalan, dan tantangan dalam pencegahan serta penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Selain itu, kegiatan ini diharapkan memperkuat perspektif peserta, khususnya media massa, dalam mendukung publikasi pemberitaan yang mendorong perlindungan, pencegahan, dan pemenuhan hak korban kekerasan.
Sejumlah narasumber turut hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Kepala DP3AP2KB Kota Surakarta Kristiana Hariyanti, Kepala DP2KBP3A Kabupaten Sukoharjo Sumini, akademisi LPPM UNS Dr. Rina Herlina Haryani, serta Manajer Divisi Penanganan Kasus SPEK-HAM Fitri Haryani. Diskusi dipandu moderator Nila Ayu Puspaningrum.
Melalui forum ini, diharapkan lahir penguatan sinergi antarpemangku kepentingan agar perlindungan terhadap perempuan dan anak tetap menjadi prioritas, meski berada di tengah tantangan efisiensi anggaran.
The issue of protecting women and children once again came into focus during a talk show commemorating International Women’s Day held at Balai Tawang Arum, Surakarta City Hall Complex. The event, initiated by the Women’s Solidarity for Humanity and Human Rights Foundation (SPEK-HAM) in collaboration with the IPAS Indonesia Foundation through the Arunika Program, carried the theme “Fulfilling the Rights of Victims of Violence Amid the Pressure of Budget Efficiency.”
The event served as a shared discussion forum among the government, academics, service institutions, media, and the public to strengthen commitment to the protection and fulfillment of the rights of victims of gender-based violence, particularly women and children.
According to the event concept note, violence against women and children remains a serious challenge. Nationally, the National Commission on Violence Against Women recorded an increase in cases of violence against women from 401,876 cases in 2023 to 445,502 cases in 2024. In Central Java, cases also rose from 2,207 in 2022 to 2,338 in 2023.
At the local level, the Office of Women’s Empowerment, Child Protection, Population Control, and Family Planning of Surakarta recorded 173 reports of violence cases in 2024, consisting of 72 adult cases and 101 child cases. In 2025, the number of cases handled through the Integrated Service Unit for the Protection of Women and Children increased to 190 cases. The most frequently handled forms of violence were domestic violence with 73 cases, followed by sexual violence with 55 cases.
The Vice Mayor of Surakarta, who attended as the keynote speaker, stressed that the increase in cases in Surakarta must become a shared concern and be followed up seriously.
“In Surakarta, there has actually been an increase in cases. We need to remember that the legal framework is already in place, so we must thoroughly investigate all issues concerning women and children. This issue is also related to the Asta Cita of the Surakarta City Government,” said the Vice Mayor of Surakarta.
The statement emphasized that efforts to protect women and children cannot be seen merely as a sectoral issue, but rather as part of the city’s broader development agenda that must be carried out consistently. The existence of a legal framework, she noted, must be followed by concrete measures in case handling, victim assistance, and strengthening prevention systems within the community.
The talk show also aimed to map vulnerabilities, problems, and challenges in the prevention and handling of violence against women and children amid budget efficiency policies. In addition, the event was expected to strengthen the perspectives of participants, especially the mass media, in supporting news coverage that promotes protection, prevention, and the fulfillment of victims’ rights.
A number of speakers also attended the event, including Head of DP3AP2KB Surakarta Kristiana Hariyanti, Head of DP2KBP3A Sukoharjo Sumini, academic from LPPM UNS Dr. Rina Herlina Haryani, and SPEK-HAM Case Handling Division Manager Fitri Haryani. The discussion was moderated by Nila Ayu Puspaningrum.
Through this forum, stakeholders are expected to further strengthen synergy so that the protection of women and children remains a priority despite the challenges of budget efficiency.
Prakara perlindungan perempuan lan bocah maneh dadi sorotan sajrone talkshow pengetan Dina Perempuan Internasional sing dianakake ing Balai Tawang Arum, Komplek Balai Kota Surakarta. Kagiyatan iki diinisiasi déning Yayasan Solidaritas Perempuan kanggo Kemanusiaan lan Hak Asasi Manungsa (SPEK-HAM) bebarengan karo Yayasan IPAS Indonesia lumantar Program Arunika, kanthi ngusung tema “Pemenuhan Hak-Hak Korban Kekerasan ing Tengah Pusaran Efisiensi Anggaran”.
Kagiyatan iki dadi papan rembugan bebarengan antarane pamaréntah, akademisi, lembaga layanan, media, lan masyarakat kanggo nguwatake komitmen perlindungan sarta pemenuhan hak-hak korban kekerasan berbasis gender, mligine perempuan lan bocah.
Miturut kerangka acuan kagiyatan, prakara kekerasan tumrap perempuan lan bocah isih dadi tantangan serius. Ing tingkat nasional, Komnas Perempuan nyathet anané peningkatan kasus kekerasan tumrap perempuan saka 401.876 kasus ing taun 2023 dadi 445.502 kasus ing taun 2024. Ing tingkat Jawa Tengah, kasus uga mundhak saka 2.207 kasus ing taun 2022 dadi 2.338 kasus ing taun 2023.
Ing tingkat lokal, Dinas Pemberdayaan Perempuan lan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk lan Keluarga Berencana Kota Surakarta nyathet 173 laporan kasus kekerasan ing taun 2024, kanthi rincian 72 kasus wong diwasa lan 101 kasus bocah. Ing taun 2025, jumlah penanganan kasus liwat Unit Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan lan Anak mundhak dadi 190 kasus. Wujud kekerasan sing paling akèh ditangani yaiku kekerasan dalam rumah tangga cacah 73 kasus, banjur kekerasan seksual cacah 55 kasus.
Wakil Wali Kota Surakarta sing rawuh minangka keynote speaker negesake manawa peningkatan kasus ing Kota Surakarta kudu dadi perhatian bebarengan lan ditindaklanjuti kanthi temenan.
“Ing Kota Surakarta malah ana peningkatan kasus, kita perlu eling menawa payung hukum wis ana, mula kabeh persoalan sing nyangkut perempuan lan bocah-bocah kudu diusut tuntas. Prakara iki uga gegayutan karo Asta Cita Pemkot Surakarta,” ujar Wakil Wali Kota Surakarta.
Pernyataan kasebut negesake manawa upaya perlindungan perempuan lan bocah ora bisa dideleng mung minangka prakara sektoral, nanging dadi bagean saka agenda pembangunan daerah sing kudu ditindakake kanthi konsisten. Anane payung hukum kudu dibarengi langkah nyata ing penanganan kasus, pendampingan korban, sarta penguatan sistem pencegahan ing tengah masyarakat.
Talkshow iki uga nduweni ancas kanggo memetakan kerentanan, persoalan, lan tantangan ing pencegahan lan penanganan kekerasan tumrap perempuan lan bocah ing tengah kebijakan efisiensi anggaran. Saliyane kuwi, kagiyatan iki diarep-arep bisa nguwatake perspektif para peserta, mligine media massa, ing ndhukung publikasi pawarta sing nyengkuyung perlindungan, pencegahan, lan pemenuhan hak-hak korban kekerasan.
Sawetara narasumber uga rawuh ing kagiyatan kasebut, antarane Kepala DP3AP2KB Kota Surakarta Kristiana Hariyanti, Kepala DP2KBP3A Kabupaten Sukoharjo Sumini, akademisi LPPM UNS Dr. Rina Herlina Haryani, lan Manajer Divisi Penanganan Kasus SPEK-HAM Fitri Haryani. Rembugan dipandhegani déning moderator Nila Ayu Puspaningrum.
Liwat forum iki, diarep-arep bakal saya kuwat sinergi antar pemangku kepentingan supaya perlindungan tumrap perempuan lan bocah tetep dadi prioritas sanajan ana tantangan efisiensi anggaran.